kaWanku Thumbstory Competition
#Thumbstory Satu Perseribu
Oleh : adelptr
Belanja. Satu kesukaan yang lama-lama jadi kebiasaan, dan sama sekali tidak bisa kutinggalkan. Entah itu tas, baju, atau sepatu. Mau itu disini, diluar kota, atau diluar negri. Dari harga puluhan ribu, sampai juta-jutaan sekalipun. Seperti sekarang ini, aku sedang berbelanja di sebuah butik. Dimeja kasir, aku mengeluarkan dompet, dan menatap satu kartu kredit sambil tersenyum. Untung selalu ada kartu ini.. Batinku. Belum sempat aku menarik kartu tersebut, tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang menyambar dompetku, dan berlari kencang meninggalkan butik. Aku yang kaget, sontak berteriak "COPET!!" Melihat tidak ada yang berinisiatif baik menolong, aku memutuskan untuk berlari mengejar gadis itu sendiri. Diluar, aku melihat gadis itu masih belum terlalu jauh dariku. "BERHENTI!!" Teriakku sambil mengejarnya. Gadis itu menoleh sesekali kearahku kemudian terus berlari. Dompetku! Semua uang dan kartu kreditku! Orangtuaku pasti akan memarahiku habis-habisan jika barang-barang itu hilang. Merekapun pasti tidak akan membolehkanku berbelanja lagi untuk waktu yang lama. Dengan fikiran yang makin kalang kabut, aku mengencangkan lariku. Aku akhirnya berhenti dan tertegun ketika melihat gadis itu memasuki sebuah tempat, yang sepertinya rumahnya, namun terlalu menyedihkan untuk dikatakan sebuah 'rumah'. Pelan-pelan aku berjalan kesana. Setelah kuketuk pintunya beberapa kali, seorang wanita paruh baya membuka pintu. Gadis kecil yang mengambil dompetku berada dibelakangnya, terlihat takut. "Mba yang punya dompet ini ya?" Kata wanita yang sepertinya adalah ibunya, seraya menyerahkan dompetku. "Maaf ya mba.. Anak saya memang keterlaluan. Mau masuk dulu?" Aku mengikutinya kedalam. Satu tahun telah berlalu. Sekarang, semuanya telah berubah. Setelah aku mengunjungi rumah pencopetku sendiri, ternyata ia hanya seorang gadis tidak mampu yang telah putus asa dan akan melakukan apapun demi semangkuk nasi. Rumah gadis itu hanya beberapa meter, ketika rumahku berukuran lebih dari seribu meter. Ia tidak memiliki elektronik apapun kecuali televisi keluaran jaman dahulu, ketika aku memiliki hampir semua gadget-gadget terbaru. Aku membelanjakan uangku untuk barang-barang yang sebenarnya telah kupunya lebih dari cukup, sementara dia harus mengambil untuk memiliki sedikit saja uang. Pelajaran ternyata bisa didapat darimanapun. Dan aku, mendapatkannya dari orang yang justru sempat berniat jahat padaku.
Copyright © 2012 kaWanku